Translate

Sejarah Teh Masuk Ke Indonesia dan Perkembangannya

Selama ini jamak orang memahami teh yang berkualitas itu dari Cina. Itu benar, namun kita pun harus menyadari bahwa Indonesia pun memiliki tanaman teh yang berkualitas. Hal ini wajar, sebab keberagaman sejarah tentang penemuan teh mencuat dengan beragam versi.

Akan tetapi versi cerita yang paling dominan banyak diketahui oleh masyarakat luas adalah kisah asal-usul teh pada masa Kaisar Shen Nung yang hidup sekira tahun 2737 sebelum masehi yang saat itu Kaisar tersebut dijuluki sebagai bapak obat-obatan tradisional Tiongkok.


Menurut kisah legenda, suatu hari Kaisar Shen Nung sedang bercocok tanam di sudut sebuah kebun miliknya. Dan konon ia biasa merebus air dan membuat minuman pelepas dahaga selepas bekerja. Tatkala dirinya tengah berada dekat perapian dan memasak air menggunakan kuali di bawah pohon yang rindang – angin bertiup cukup kencang dan menggugurkan beberapa helai dedaunan hingga terbang dan jatuh ke dalam rebusan air dalam kuali hingga akhirnya terseduh.

Saat itu sang Kaisar meminum air dengan seduhan dedaunan kemudian dirinya merasa heran dengan rasa air yang sangat berbeda dibandingkan dengan air putih yang biasa direbusnya. Ini lebih sedap dan membuat badan menjadi lebih segar. Daun yang berguguran dan masuk ke dalam kuali itu yang kemudian dikenal dengan daun teh. Akhirnya legenda ini tersebar luas ke seluruh negeri.

Hingga sampailah tanaman teh ke Indonesia untuk kali pertama pada 1684 berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh seorang berkebangsaan Jerman bernama Andreas Kleyer dan di tanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Dan diadakan ujicoba penanaman teh dalam skala besar di Banyuwangi dan Purwakarta. Hasil dari ujicoba penanaman teh tersebut mencapai keberhasilan.

Hal menjadi dasar pemikiran bagi seorang ahli teh yang bernama Jacobus Isidorus Loudewijck Levian Jacobson untuk membuka akses usaha perkebunan teh di Jawa. Sampai pada 1828 di masa pemerintahan Hindia Belanda, tanaman teh menjadi primadona sebagai komoditas penting dalam perdagangan dunia. Sampai pada 1835, 200 peti tanaman teh berperan dalam pelelangan teh di Belanda untuk pertama kalinya. Semenjak itu, tanaman teh Indonesia harum namanya di kancah perdagangan internasional. 

Dan beratus-ratus tahun kemudian dengan teknologi yang semakin canggih kebiasaan meminum Teh Berkualitas Asli Indonesia pun mulai mengikuti perkembangan dan memanfaatkan teknologi moderen. Seperti saat ini teh hadir dalam kemasa celup, hadir dalam kantong-kantong kecil.
 

Kisah Enrique Maluku Petualang dan Penjelajah Hebat Dari Indonesia

Namanya mungkin nyaris tak pernah didengar di buku-buku sejarah. Padahal, dalam catatan pengelana dari Spanyol, Antonio Pigafeta, yang tersimpan di musium di Spanyol tertulis nama Enrique Maluku.

Soal Enrique Maluku ini dikupas dalam buku karya Helmy Yahya dan Reinhard Tawas, yang diterbitkan Ufuk Publishing House Rabu (8/10/2014). Di buku ini sosok Enrique Maluku dan sepak terjangnya selama pelayaran dengan bersama Magellan mengelilingi bumi.

Dalam buku yang terdiri 11 bab dan 229 halaman termasuk catatan kaki ini, Enrique Maluku disebutkan sebagai asisten dari Magellan. Namun Magellan tak bisa menuntaskan perjalanannya dan tewas dibunuh suku di kepulauan Filipina. Sedang Enrique meneruskan perjalanannya hingga paripurna mengelilingi bumi.




Di abad ke 14 dan 15, para penjelajah Eropa memang tengah berburu rempah-rempah langsung ke negara penghasilnya. Maluku dikenal sebagai kawasan penghasil rempah-rempah. Portugal dan Spanyol, dua negara yang di masa keemasannya membagi bumi menjadi dua bagian untuk mereka ini mengirim penjelajah terbaik mencari rute rempah.

Hingga kemudian muncul Columbus, Vasco da Gama, hingga Magellan. Dan bersama Magellan tersebutlah nama Enrique Maluku.

"Tidak ada data tentang bagaimana dan kapan tepatnya Enrique Maluku sampai di Malaka. Akan tetapi jika menghitung mundur usianya, pada usia 26 tahun ia menghadap Raja Charles I penguasa Spanyol bersama Ferdinand Magellan," demikian tertulis dalam buku Enrique Maluku.

Melihat catatan lain soal sosok Enrique Maluku ini memang mengundang perdebatan. Ada sejumlah kalangan yang menyebut dia berasal dari Malaka atau disebut Enrique de Malacca yang juga dikenal dengan Datuk Laut Hitam. Sosok Enrique ini juga diklaim dalam sejarah Filipina hingga Malaysia.

Namun, bersumber dari catatan sejarah, penulis buku meyakini kalau Enrique berasal dari Maluku. Dengan melihat ciri dia seperti masyarakat Indonesia Timur. Enrique juga menguasai bahasa Ambon, Melayu, Portugal, dan Spanyol, serta sejumlah bahasa daerah seperti Bugis dan Jawa.

"Enrique Maluku boleh jadi berlayar meninggalkan Amboina pada usia sekitar 10 tahun, di tahun 1503. Dia kemungkinan bekerja di kapal yang mengangkut biji pala dari Banda Neira dan cengkeh dari Amboina ke Malaka dan berbagai tempat," tulis di buku itu.

Magellan sang kepala ekspedisi penjelajah, kerap menyebut dia dari Zamatra atau Sumatera, sekalipun kulitnya hitam legam. Karena itu, Enrique atau disebut juga Henry el negro.

Dalam buku itu juga diuraikan bagaimana Enrique kerap disebut sebagai orang Palembang dan juga Malaka, karena kemungkinan dia kerap singgah di Palembang yang pernah menjadi bandar utama nusantara di masa Sriwijaya. Juga, Enrique pernah bekerja di Malaka mengabdi pada Sultan Mahmud Syah.

"Setelah Malaka ditaklukan Portugal pada 1511, Enrique diambil Magellan salah satu kapten armada Alfonso D'Albuquerque pada saat dimulainya pengepungan Malaka pada 13 Juli 1511 yang merupakan hari raya St Henry. Itu pula sebabnya dia diberi nama Henrique (Portugal) atau Enrique (Spanyol), yang dalam bahasa Inggris disebut Henry. Lengkapnya Enrique el Negro, karena kulitnya yang hitam," tulis di buku itu. 

 Hidup Enrique Maluku Sang Penjelajah Berakhir di Filipina

Enrique Maluku tewas di Filipina. Kisah tragis akhir hidupnya dimulai setelah Ferdinand Magellan sang kapten kapal yang merekrutnya tewas di tangan suku Mactan di Filipina.

Magellan ingin menaklukkan suku Mactan namun dilawan. Pertempuran terjadi dan Magellan tewas. Enrique sang asisten yang ikut dalam pertempuran itu juga terluka.

Soal Enrique Maluku ini dikupas dalam buku karya Helmy Yahya dan Reinhard Tawas, yang diterbitkan Ufuk Publishing House.

Kematian Magellan berimbas pula pada nasib Enrique. Kapten kapal yang baru, Duarte Barbosa tak menyukainya.

Sesuai surat wasiat Magellan seharusnya Enrique dibebaskan bila dia meninggal. Namun para awak kapal terus menahan dia. Hingga akhirnya, datang undangan dari Raja Humabon salah satu penguasa di kepulauan di Filipina.

Raja Humabon ini memiliki hubungan baik dengan Magellan, tawaran sarapan pagi kepada para awak kapal disambut baik, termasuk oleh Enrique Maluku yang menjadi penerjemah yang dahulu menghubungkan Magellan dengan Humabon. Bahasa melayu adalah bahasa yang dipakai Humabon.

Dalam catatan penulis sejarah Spanyol, Martin Fernandez de Navarret, tentang angkatan laut Spanyol, Enrique salah satu yang tewas dalam sarapan pagi beracun itu.

Namun catatan Antonio Pigafetta yang menjadi juru tulis di kapal itu, Enrique Maluku ditinggalkan begitu saja di pulau itu dalam keadaan hidup.

Dengan kapal yang tersisa, armada Magellan meninggalkan Filipina dan akhirnya bisa ke Maluku. Di sana mereka bisa mengangkut cengkeh hingga ratusan karung.

Satu hal yang ditulis dalam buku tentang Enrique Maluku ini, Juan Sebastian de Elcano salah satu dari 18 awak kapal yang selamat hingga kembali ke Maluku tidak mengungkit sama sekali soal Enrique Maluku ini dalam catatannya.

“Elcano adalah seorang pelaut yang tidak senang dengan Enrique Maluku. Hingga dalam ekspedisi dia dikecilkan perannya, mungkin karena dekat dengan Magellan atau karena Enrique bukan orang Eropa,” tulis di buku itu.

Sejarah 'Geng Kobra' Paling Ditakuti Bandit-bandit di Jakarta

Nama Imam Syafi'ie kadung kesohor di kalangan dunia hitam Jakarta. Era 1950an menjadi titik dimana namanya mencuat. Bang Pi'ie begitu dia disapa, mampu menundukkan para preman di Jakarta agar tidak berbuat onar. Maklum lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan, Kota Jakarta mulai digeruduk kaum urban dari berbagai daerah.


Waktu itu, banyak orang daerah berduyun-duyun ke Jakarta mencoba mencari peruntungan rizki. Hal itu justru berdampak negatif. Lima tahun setelah kemerdekaan kondisi ekonomi Indonesia masih belum stabil. Di saat urbanisasi besar-besaran aksi kejahatan di Jakarta semakin meningkat.

"Jakarta tempo dulu belum dapat menyediakan lapangan kerja," kata Bang Pi'ie seperti ditirukan anak dari istri ke-empatnya, Edi Syafi'ie saat berbincang dengan merdeka.com di Hotel Milenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat, kemarin.

Begitu cikal-bakal Bang Pi'ie akhirnya mendirikan organisasi bernama Kobra alias Korps Bambu Runcing. Era 1950an merupakan awal pijakan kehidupan di negeri ini pasca-perang dengan penjajah. Para pejuang dulu ikut melawan penjajah kembali ke Jakarta. Sebagian dari mereka dapat masuk ke TNI AD, AU dan AL serta kepolisian. Namun tak sedikit dari bekas pejuang itu kembali ke profesinya masing-masing.

Pada situasi itu, tingkat kejahatan di Jakarta mulai meningkat. Aksi kriminalitas seperti pencopetan, perampokan dan penodongan sudah menjadi makanan setiap hari bagi sebagian pendatang maupun warga Jakarta. Maklum, saat itu Kepolisian juga baru berdiri dan belum terorganisasi dengan rapih dan baik.

Saat malam, jalan di Jakarta menjadi mencekam. Bang Pi'ie saat itu mengatakan kepada petinggi Angkatan Darat dan Kepolisian, jika dia mampu menurunkan angka kriminalitas. Lantas Bang Pi'ie menjabarkan caranya menekan angka kejahatan.

Bang Pi'ie mengumpulkan dan memanggil seluruh anak buahnya berisi para jawara untuk berkumpul di wilayah Senen. Kepada anak buahnya, Bang Pi'ie mengatakan jika dia ingin mendirikan Organisasi Kobra. Tujuannya meredam tingkat kejahatan yang mulai tak terkendali. "Tujuannya meredam dan menurunkan tingkat kejahatan," terang Edi.

Hanya dalam waktu 1,5 bulan setelah di bentuk, nama Kobra mulai jadi bahan pembicaraan hampir di seluruh Jakarta. Dalam waktu 3 bulan seluruh tindak kejahatan berhasil diturunkan. Hampir seluruh tempat tahanan kota tak mampu menampung para pelaku kejahatan.

Sebagai solusi untuk menekan kriminalitas, para pelaku kejahatan yang notabene penganguran itu lantas diberi pekerjaan. Sebagian ada yang menjadi kuli angkut di Pasar Senen. Sebagian lagi ada yang menjadi keamanan. "Itu yang tidak diprediksi," ujar Edi.

Sebagian anggota Kobra merupakan bekas anak buah Bang Pi'ie ketika perang dulu. Sayang, setelah kemerdekaan banyak di antara pejuang itu yang tidak mendapat tempat di militer. Agar mereka tak 'salah jalan', Bang Piie lantas mengumpulkan mereka dalam Organisasi Kobra itu. Mereka dikoordinir untuk menjaga wilayah area masing-masing mulai dari kelurahan hingga kecamatan.

Sebagai imbalan, organisasi Kobra menerima iuran saban bulan. Iuran itu tidak ditentukan tergantung kekuatan dari pembayar. Biasanya, para cukong atau pemilik toko senang jika ada anggota Geng Kobra ikut bekerja di tokonya. Selain menjaga keamanan, mereka juga bertugas menangkap pelaku kejahatan.

Dalam menjalankan organisasi itu bang Pi'ie dibantu oleh tangan kanannya. Adalah Letnan Dua Achmad Benyamin atau dikenal Mat Bendot dan Letnan Dua Supardi Simbda dan Lettu Saumin sebagai wakil ketua harian. Saat mendirikan organisasi itu, Bang Pi'ie duduk sebagai ketua umum sedangkan ketua hariannya dijabat oleh Mat Bendot.

"Tugas mereka mendata semua kelompok kejahatan di wilayah masing-masing," ujarnya.

Berkat berdirinya organisasi Kobra ini, situasi di Jakarta saat itu mulai bisa berjalan normal. Roda perekonomian dan ketakutan masyarakat terhadap kejahatan menjadi berkurang.

Sejarah Payung, Asal-Usulnya Melibatkan Bangsawan Berbagai Negara

Payung mungkin sudah menjadi barang yang wajib dimiliki oleh semua orang. Yang semula hanya difungsikan untuk melindungi tubuh saat hujan, sekarang payung juga bertambah fungsinya untuk melindungi seseorang dari sengatan sinar matahari, untuk kegiatan keagamaan tertentu, untuk sekedar gaya, dan lain-lain.

Terlepas dari itu semua, tahukah kamu bagaimana sebenarnya asal muasal munculnya payung? Mungkin memang belum banyak yang tahu bahwa sebenarnya barang sederhana itu memiliki sejarah yang luar biasa.


Dilansir briio.net dari umbrellahistory.net, Minggu (3/5), payung muncul sejak 3.000 tahun lalu sejak masa Mesir kuno yang memang difungsikan untuk melindungi para bangsawan dari sinar mataharri agar kulit mereka tetap tampak cerah. Namun pada saat itu mereka belum membuat payung yang dapat melindungi tubuh mereka dari hujan. Sampai kemudian pada abad ke 11 sebelum masehi, China menciptakan produk payung yang terbuat dari bahan kulit yang dipatok dengan harga tinggi dan hanya digunakan oleh kaum bangsawan.

Sayangnya payung buatan China tersebut tidak diperdagangkan pada bangsa Eropa saat jalur perdagangan dunia melintasi negaranya. Akhirnya Mesir lah yang mulai menawarkan payung untuk perlindungan dari sinar matahari milik mereka pada para pedagang Yunani dan Roma, di mana penggunanya adalah para wanita bangsawan.

Waktu itu para pria Eropa menilai payung layaknya barang yang identik dengan para wanita sehingga mereka memilih menggunakan jas dan topi untuk melindungi diri mereka saat hujan maupun panas daripada derajat mereka turun karena menggunakan payung.

Namun ketika kejayaan kerajaan Romawi mulai runtuh dan menimbulkan kemiskinan di mana-mana, payung sudah tak lagi digunakan di Eropa kurang lebih 1.000 tahun lamanya. Dan setelah masa Renaissance di Italia, Prancis, dan Inggris dan akhirnya payung kembali eksis digunakan sebagai salah satu tambahan untuk tren busana para wanita.

Status payung sebagai barang khusus wanita berkembang sampai abad ke 18 sebelum Jonas Hanway, pria berkebangsaan Inggris mencoba membawa payung dengan bentuk lebih maskulin di setiap kesempatan, guna menunjukkan bahwa barang ini tidak hanya untuk wanita saja.

Tiga abad kemudian barulah masyarakat Inggris mulai bisa menerima bahwa payung dapat digunakan oleh semua orang, baik pria dan wanita. Orang-orang juga tidak hanya menggunakan payung untuk melindungi diri dari panas dan hujan tetapi juga sebagai pelengkap gaya mereka saat harus melakukan perjalanan. Tren itulah yang akhirnya berkembang di seluruh wilayah Eropa sampai akhirnya para pengusaha berusaha mengembangkan berbagai desain payung termasuk yang sekarang kita gunakan.

Ngobrolin Tentang Catur

Bidak Raja dan Benteng yang akan dilibatkan dalam rokade harus belum pernah bergerak

Tidak ada bidak lain di antara Raja dan Benteng

Raja tidak sedang di-skak, dan petak-petak yang dilalui Raja tidak sedang diserang oleh bidak lawan

Hal-hal berikut ini merupakan kesalah pengertian dalam rokade, yang semestinya tidak berlaku:

Bidak benteng yang terlibat rokade sedang diserang
Jika benteng yang dilibatkan berada di sisi Ratu, petak yang berada persis di samping Benteng tersebut tidak boleh dalam serangan

Ketika pion bergerak dua petak maju dan ada pion lawan yang berada satu petak dalam baris tujuan, maka pion lawan dapat menangkap dan menempati petak yang baru saja dilalui pion tersebut (seolah-olah pion tersebut bergerak satu petak maju). Namun demikian, gerakan ini hanya dapat dilakukan sesaat setelah gerakan pion maju dua petak, atau hak lawan untuk melakukan gerakan en passant ini hilang.

Promosi

Ketika pion telah maju hingga menempati baris paling akhir, berbarengan dengan gerakan maju tersebut, pion dipromosikan dan harus ditukar dengan bidak berdasarkan keinginan pemain, yaitu Ratu, Benteng, Gajah, ataupun Kuda dengan warna yang sama. Pada umumnya, pion dipromosikan menjadi Ratu. Tidak ada peraturan yang membatasi bidak yang dipilih sebagai promosi, jadi dimungkinkan memiliki bidak yang melebihi jumlahnya waktu awal permainan (semisal, dua Ratu).
Skak

Ketika Raja sedang diserang oleh satu atau lebih bidak lawan, keadaan ini disebut dengan skak. Pemain yang Rajanya diskak harus menggerakkan Rajanya supaya tidak terserang. Hal ini dapat dilakukan dengan menangkap bidak lawan yang menyerang, menutup serangan lawan dengan menempatkan sebuah bidak di antaranya (apabila yang menyerang Ratu, Benteng, atau Gajah dan ada petak kosong di antara Raja dan bidak lawan), atau memindahkan Raja ke petak yang tidak sedang diserang. Rokade tidak diijinkan apabila Raja sedang diskak.

Akhir Permainan


Tujuan permainan adalah mencapai posisi skak mat. Hal ini bisa terjadi bila Raja terancam dan tidak bisa menyelamatkan diri ke petak lain. Tidak selalu permainan berakhir dengan kekalahan, karena bisa terjadi pula peristiwa seri atau remis di mana kedua belah pihak tidak mampu lagi meneruskan pertandingan karena tidak bisa mencapai skak mat. Peristiwa remis ini bisa terjadi berdasarkan kesepakatan maupun tidak. Salah satu contoh remis yang tidak berdasarkan kesepakatan - tetapi terjadi adalah pada keadaan remis abadi. Keadaan remis yang lain adalah keadaan pat, dimana yang giliran melangkah tidak bisa melangkahkan buah apapun termasuk Raja, tetapi tidak dalam keadaan terancam skak. Dalam pertandingan catur pihak yang menang biasanya mendapatkan nilai 1, yang kalah 0, sedang draw 0.5.


Berbagai versi

Terdapat berbagai macam versi permainan Catur - Catur Klasik, Catur Cepat, Catur Kilat, Catur Buta, Catur Simultan, Catur Tandem, Catur Estafet, Catur Online, Catur Korespondensi, Catur Kartu,Catur Jawa dan ada juga Catur Karo (Suku karo SUMUT)... dimana gerakan beberapa buah catur berbeda dengan Gerakan Catur Konvensional

Juara

Seorang pecatur yang telah memenangi berbagai turnamen berhak mendapatkan gelar catur yang sesuai dengan prestasinya. Dalam dunia catur terdapat beberapa macam gelar - Gelar Internasional yaitu Grandmaster (GM), Grandmaster Wanita (GMW), Master Internasional (MI), Master Internasional Wanita (MIW), Master FIDE (MF), Master FIDE Wanita (MFW), Candidate Master (CM) dan Woman Candidate Master Wanita (WCM). Gelar Internasonal dikeluarkan oleh FIDE (Organisasi Catur Dunia). Dan di Indonesia juga dikenal gelar lokal yaitu Master Nasional (MN), Master Nasional Wanita (MNW), Master Percasi (MP) dan Master Percasi Wanita (MPW). Gelar nasional dikeluarkan oleh PERCASI (Persatuan Catur Seluruh Indonesia).
Daftar pecatur

Indonesia saat ini sudah mempunyai 7 pecatur yang bergelar Grandmaster (GM) yaitu :

Utut Adianto
Edhi Handoko (Almarhum)
Cerdas Barus
Ruben Gunawan (Almarhum)
Ardiansyah
Susanto Megaranto (Grandmaster termuda)
Herman Suradiradja (Grandmaster pertama)

Sedang pecatur yang bergelar Master Internasional (MI) antara lain :

Danny Juswanto (Norma GM)
Dede Liu
Nasib Ginting
Salor Sitanggang
Ivan Situru
Irwanto Sadikin
Ir. Tirto (Norma GM)
Taufik Halay
Ronny Gunawan (Norma GM)
Andi Supardi Suhendra
Tirta Chandra Purnama
Bobby Kurniawan
Farid Firmansyah
[Muhammad Miftah Farid ]]

Yang bergelar Master FIDE (MF) saat ini antara lain :

Hamdani Rudin
Awam Wahono
Anjas Novita
Nurdin Askali
Kifli Tunasli
Syarif Mahmud
Kasmiran
Benny Killeng (Almarhum)
Maksum Firdaus
Khairul Anam
Johan Gunawan
Pitra Andika
Laksana Agusta
Andrean Susilodinata
Deni Sonjaya
Arif Abdul Hafiz
Putra Ivan Maximilian

Yang bergelar Grand Master Wanita (GMW) saat ini : Irene Kharisma Sukandar

Yang bergelar Master Internasional Wanita (MIW) saat ini antara lain :

Upi Darmayana Tamin
Lindri Juni Wijayanti
Lisa Karlina Lumongdong
Maria Ratna Lucia (tidak aktif)
Chelsie Monica Ignesias Sihite (Norma WGM)
Medina Warda Aulia (Norma WGM)

Yang bergelar Master FIDE Wanita (WMF) saat ini antara lain :

Dewi A.A. Citra
Karenza Dita
Anastasia Patrick
Aay Aisyah Anisa
Ummi FIsabilillah
Ananda Astri Harsono

Catur diatur secara internasional oleh organisasi bernama FIDE. FIDE singkatan dari Fédération Internationale des Échecs.
Rating catur

ELO Rating Tertinggi Dunia dipegang oleh GM Magnus Carlsen (Norwegia) 2861.

Sedang pecatur Indonesia yang tertinggi ELO Ratingnya saat ini adalah GM Utut Adianto (2548) dan kedua GM Susanto Megaranto (2527).

Ini Dia Gan Sejarahnya Mengapa Ada Pos Ronda Atau Pos Kamling

Mungkin setiap orang di Indonesia tahu tentang pos ronda, karena di setiap kampung di Indonesia terdapat pos ronda. Namun siapa yang tahu sejarah pos ronda, mungkin tidak semua orang tahu.
 

Sejarah pos ronda berawal dari pos-pos penjaga di jaman kolonial. Ketika itu pos jaga berfungsi sebagai perpanjangan dari menara-menara dari kekuasaan kolonial untuk mengekang gerak pribumi. Fungsinya lebih mirip pos pengawasan terhadap pribumi yang melewati daerah tertentu. Hal serupa juga terjadi ketika Jepang berkuasa di Indonesia.

Tapi sejak era kemerdekaan bekas pos-pos penjagaan Belanda atau Jepang diambil alih oleh pribumi. Pengambilalihan itu disertai dengan perubahan fungsi. Bila pada era sebelumnya penguasa kolonial yang mengawasi pribumi, maka sejak era kemerdekaan orang Belanda atau Jepang yang diawasi.

Gardu mengalami perubahan fungsi lagi di era presiden Soeharto berkuasa. Gardu lagi-lagi menjadi perpanjangan tangan kekuasaan. Keberadaan gardu mengukuhkan bentuk militerisme dalam kemasan yang lebih sederhana dan terasa merakyat. Soeharto menerapkan model pertahanan semesta yang berfungsi sebagai pendukung legitimasi kekuasaaannya dengan dalih Sistem Keamanan Lingkungan (Sisklamling).

Yoshizumi, Intelijen Jepang Yang Berbalik Menjadi Mengabdi Untuk Indonesia

Jepang mengirim pasukannya ke Indonesia untuk mendudukinya. Tapi serdadu yang satu ini justru mempersembahkan hidupnya buat Indonesia.

SUKARNO menghormati dua tentara Jepang yang berjuang untuk Indonesia. Selain Ichiki Tatsuo, seorang lainnya adalah Tomegoro Yoshizumi.

Yoshizumi lahir di Oizumi-Mura Nishitagawa pada 1911. Ketika berusia 21 tahun, dia menjadi satu dari sekian banyak spion militer Jepang yang dikirim ke Selatan (Hindia Belanda). Kala itu, Jepang mengirim banyak spionnya ke berbagai negeri untuk berbagai tujuan, yang tak melulu politik dan militer.



“Sejak membuka diri, Jepang memaksimalkan kerja-kerja spionase untuk memakmurkan bangsanya,” tulis Wenri Wanhar, wartawan Historia, dalam bukunya, Jejak Intel Jepang: Kisah Pembelotan Tomegoro Yoshizumi. Para spion Jepang itu menyamar dengan menjalankan beragam profesi, dari pengusaha warung kelontong hingga rumah bordil.

Yoshizumi menyamar sebagai pekerja di Toko San’yo, toko milik salah seorang familinya. Setelah itu, dia terjun berbisnis dan berhasil menjadi saudagar. Dia membangun relasi dengan banyak orang, baik di Jawa maupun luar Jawa seperti di Sulawesi.

Pada 1935, Yoshizumi melakoni peran sebagai wartawan di Nichiran Shogyo Shinbun. Selain memberitakan kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905, koran ini gencar mengkampanyekan jargon “Asia untuk Asia” dan “Jepang saudara tua”, sehingga menuai respons keras dari pemerintah Hindia Belanda. Melalui tulisannya di Tohindo Nippo, koran hasil fusi Nichiran Shogyo Shinbun dan Jawa Nippo, Yoshizumi menggalang persatuan orang-orang Jepang di Hindia Belanda.


Awal 1941, Yoshizumi, redaktur Tohindo Nippo, dideportasi Pemerintah Hindia Belanda karena aktivitas jurnalismenya. Di Jepang, dia menjalin koordinasi dengan Kaigun atau Angkatan Laut Jepang. Dia lalu dipekerjakan untuk mengamati dan ikut operasi di Selatan, termasuk Indonesia.

Yoshizumi ditangkap pemerintah Hindia Belanda sehari setelah Jepang menyerbu Pearl Harbor di Hawaii, 8 Desember 1941. Dia menjalani penahanan yang berat di Australia. Namun, penahanan tersebut membuatnya berubah 180 derajat. Hal itu dikatakan sendiri oleh Nishijima, sahabat Yoshizumi. “Yoshizumi yang sebelumnya seorang sayap kanan nasionalis Jepang yang antikomunis menjadi seorang Marxis,” tulis Wenri.

Idealisme kiri itulah yang kemudian membuatnya bersimpati terhadap gerakan kemerdekaan Indonesia dan membawanya menjadi satu dari beberapa tokoh kunci Jepang yang membantu mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Yoshizumi, ketika mengepalai bagian intelijen Kaigun Bukanfu (kantor penghubung AL Jepang), aktif membangun jaringan dan merancang gerakan bawah tanah. Pertemuan Yoshizumi –dan Nishijima– dengan Tan Malaka di rumah Ahmad Subardjo tak lama setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus membuatnya melangkah lebih besar dalam berjuang.

“Pendek kisah, dua orang Jepang itu minta dibaiat menjadi Indonesia,” tulis Wenri. Tan Malaka memberi nama Indonesia “Hakim” untuk Nishijima dan “Arif” untuk Yoshizumi.


Yoshizumi melibatkan diri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mula-mula dia mencuri barang-barang di gudang Markas Besar Kaigun Bukanfu lalu menjualnya di pasar gelap. Uang hasil penjualan diberikan kepada Tan Malaka untuk dana perang gerilya. Yoshizumi juga menemani Tan Malaka ke Banten. Dari Banten, dia pergi ke Surabaya. Dia menjalin kontak dengan Affandi, pemimpin serikat buruh PAL, galangan kapal di daerah Ujung, Surabaya. Kepada Affandi, dia memberi masukan soal pendirian pabrik senjata di Mojopanggung, Blitar, dan Kediri.

Tomegoro Yoshizumi gugur pada 10 Agustus 1948 di Blitar, Jawa Timur ketika bergerilya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kini, makamnya bisa dijumpai di Taman Makam Pahlawan, Blitar, Jawa Timur.

sumber : viva

Sejarah Kereta Api Bawah Tanah Pertama di Dunia




Pemikiran untuk menggelar layanan kereta bawah tanah sudah dimulai sekitar tahun 1850-an, saat kepadatan lalu lintas di Kota London sudah terasa sangat mengganggu mobilitas orang. Setelah upaya persiapan yang cukup lama khususnya untuk pendanaan, pekerjaan pembangunan akhirnya dimulai pada Februari 1860.

Layanan kereta bawah tanah akhirnya diresmikan pada 9 Januari 1863 dan operasinya dimulai pada 10 Januari, menghubungkan Stasiun Paddington dengan Farringdon Street, yang menjadi layanan kereta bawah tanah pertama di dunia. Dalam waktu beberapa bulan sejak dioperasikan rangkaian keretanya sudah mengangkut rata-rata 26.000 penumpang per hari.






Foto-foto berikut menggambarkan pembangunan jalur kereta api bawah tanah di kota London, sekaligus menjadi jalur kereta api bawah tanah pertama kali di seluruh dunia.

Sang Ratu Inggris membuka jalur Victoria pada tahun 1969 dan mengambil kontrol dari kereta api di Green Park, berhenti terdekat ke rumahnya Istana Buckingham.

Sejarah Kapal Jung Jawa, Teknologi Kapal Raksasa

Jauh sebelum Cheng Ho dan Columbus, para penjelajah laut Nusantara sudah melintasi sepertiga bola dunia. Meskipun sejak 500 tahun sebelum Masehi orang-orang China sudah mengembangkan beragam jenis kapal dalam berbagai ukuran, hingga abad VII kecil sekali peran kapal China dalam pelayaran laut lepas.


Dalam catatan perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695 M) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya, negeri yang ketika itu menguasai lalu lintas pelayaran di ”Laut Selatan”.

Pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada pertengahan abad ke-16 Diego de Couto dalam buku Da Asia, terbit tahun 1645 menyebutkan, orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan Madagaskar.

Ia mendapati penduduk Tanjung Harapan awal abad ke-16 berkulit cokelat seperti orang Jawa. ‘Mereka mengaku keturunan Jawa,’ kata Couto, sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara.

Berdasarkan relief kapal di Candi Borobudur membuktikan bahwa sejak dulu nenek moyang kita telah menguasai teknik pembuatan kapal. Kapal Borobudur telah memainkan peran utama dalam segala hal dalam bahasa Jawa pelayaran, selama ratusan ratus tahun sebelum abad ke-13.

Memasuki abad ke-8 awal, kapal Borobudur digeser oleh Jung besar Jawa, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Kata ‘Jung’ digunakan pertama kali dalam perjalanan biksu Odrico jurnal, Jonhan de Marignolli, dan Ibnu Battuta berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14.

Mereka memuji kehebatan kapal Jawa raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dari karya kapal Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku.


Disebutkan, jung Nusantara memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal-kapal Portugis.
Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis.

Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Nusantara untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513. Bisa dikatakan, kapal jung Nusantara ini disandingkan dengan kapal induk di era modern sekarang ini.
10 Teknologi Tinggi Milik Nenek Moyang Bangsa Indonesia.

Di zaman dahulu kala, para nenek moyang kita sudah menemukan banyak penemuan yang terbilang canggih. Tetapi sayang sekali banyak orang Indonesia sendiri tidak menyadarinya.

Cari Artikel

Followers

Back To Top